Thursday, 13 March 2014

Juru Parkir Maumere Mengaku Dapat 'Layanan' Gratis Kakak Beradik

Laporan Wartawan Pos Kupang, Feliks Janggu
TRIBUNNEWS.COM, MAUMERE - Ada kisah lain di balik profesi sebagai juru parkir liar di Kota Maumere. Dengan polos Petrus Sani Tokan mengungkapkan hari-hari hidupnya di Kota Maumere. Setiap pagi ia keluar dari emperan Pasar Bertingkat Maumere menuju Tempat Pendaratan Ikan (TPI). Dia melakukan pungutan sewa parkir di sana.
Dia mencuri start dengan para satpam di sana yang tidak mengizinkan hal itu dilakukan.
"Kalau pagi itu satpam tidak ada," tuturnya kepada Pos Kupang (Tribunnews.com Network) di Kantor Pol PP di Maumere, Rabu (12/3/2014).
Dengan bermodalkan karcis yang dipungut di jalan dan pemberian juru parkir di pertokoan Maumere, Tokan bisa mencari keberuntungan dengan menjual jasa parkir kepada masyarakat umum.
Setiap hari dia bisa mendapatkan uang Rp 20.000 sampai Rp 30.000. Uang itu dimanfaatkannya untuk makan dan minum dan hiburan lainnya. Sedangkan malam harinya mereka berjalan keliling kota, taman kota dan kemudian menginap di emperan Pasar Bertingkat Maumere.
Tokan ternyata tidak sendirian. Diakuinya, setiap malam dia tidur bersama dengan sahabatnya, dua cowok dan dua cewek. Dua cewek itu kakak beradik, berasal dari Kupang. Mereka berkumpul bersama sekitar pukul 03.00 atau pukul 04.00 Wita. Kemudian sekitar pukul 05.00 Wita dua cewek itu pergi meninggalkan Pasar Bertingkat Maumere.
Alumnus SMAK PGRI Lewoleba, Lembata ini dengan polos mengungkapkan dirinya setiap malam melakukan hubungan seks dengan pekerja seks komersial (PSK).
"Mereka teman kami, tetapi kami tidak tahu mereka kerja apa di Kota Maumere. Setiap malam dini hari, mereka datang kakak beradik dan kami melakukan hubungan. Kami gratis, tidak bayar," tutur Tokan dengan lugu.
Dijelaskan Tokan, dua kakak beradik, Intan dan Siska, itu tidak mempunyai pekerjaan di Kota Maumere. Mereka hanya jalan-jalan saja.
"Tidak kerja, mereka hanya jalan-jalan begitu saja. Tiap malam, pagi sekitar pukul 04.00 mereka datang ke Pasar Bertingkat," tutur Tokan lagi.
Baca Juga:
Juru Parkir Maumere Mengaku Dapat 'Layanan' Gratis Kakak Beradik
Barca Ingin Martino Bertahan Hingga 2015

Tawuran antar Mahasiswa (Alor & Sumba) Dipicu Dendam Lama

Jumat, 14 Maret 2014 08:22 WITA
 
Tawuran antar Mahasiswa Dipicu Dendam Lama
POS KUPANG/DION M KOTA
BERI ARAHAN--Kapolres Kupang Kota, AKBP Tito Basuki, Priyatno, S.Ik, memberikan arahan kepada para mahasiswa asal Sumba dan Alor yang terlibat tawuran si Oesapa saat berada di Mapolres Kupang Kota, Kamis (13/3/2014). INZET: Barang bukti berupa parang, pisau, batu, botol minuman keras dan tas yang digunakan untuk menyimpan batu dalam aksi tawuran antarmahasiswa di Oesapa diamankan di Mapolres Kupang Kota, Kamis (13/3/2014). 

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Tawuran antarmahasiswa asal Sumba dan mahasiswa asal Alor yang berdomisili di Kelurahan Oesapa pada Rabu  (12/3/2014) hingga Kamis (13/3/2014) dinihari itu diduga terjadi karena dendam lama.
Dalam aksi tawuran itu, polisi mengamankan barang bukti berupa belasan parang, dua ember batu berbagai ukuran, pisau dan sebotol minuman keras. Polisi menyita barang itu saat razia setelah mendengar adanya gejolak antara mahasiswa asal Sumba dan mahasiswa asal Alor di Kelurahan Oesapa.
Kapolres Kupang Kota, AKBP Tito Basuki Priyatno, S.Ik menyampaikan itu saat memberikan arahan kepada 82 mahasiswa yang ditangkap karena terlibat aksi tawuran.  Tito mengatakan, apa yang para mahasiswa ini telah meresahkan masyarakat sekitar Oesapa dan Kota Kupang. Aksi tawuran mahasiswa asal dua daerah itu telah mengganggu keamanan di Kota Kupang.
"Orang tua kirim kalian ke Kupang untuk sekolah, bukan untuk saling perang. Kemarin kalian merusak mobil dan melukai seorang aparat kepolisian, sekarang kalian melakukan aksi tawuran yang meresahkan warga sekitar dan menyebab kerusakan rumah warga," kata Tito.
Kapolres menjelaskan, setelah berkoordinasi dengan pemerintah Kelurahan Oesapa dan Babinsa yang mencium ada gejolak tawuran, maka sekitar pukul 20.00 Wita, aparat Polres Kupang Kota melakukan patroli untuk mengamati keadaan di wilayah Oesapa.
Setelah melihat adanya gejolak yang diperlihatkan oleh mahasiwa asal Sumba, demikian Tito, polisi melakukan razia. Polisi akhirnya menangkap beberapa mahasiswa di sejumlah kos  dan menemukan beberapa barang bukti yang menunjukkan adanya indikasi akan melakukan  penyerangan. Barang bukti itu berupa parang, batu dan barang tajam lainnya.
"Saya akan mengusulkan agar acara adat yang menggunakan parang, baik pada saat pesta maupun acara penyambutan lainnya tidak perlu digunakan, diganti kayu saja supaya mencegah jangan sampai hal seperti ini terulang lagi di masa  mendatang. Saya berharap kalian yang hari ini ditangkap bisa sadar dan tidak mengulangi hal ini. Berhenti duduk kumpul-kumpul,  apalagi sambil minum  minuman keras. Kami tidak main-main memberi tindak tegas jika mahasiswa kembali berulah," tegas Tito.
Sulaiman, salah seorang perwakilan dari orang tua Sumba menyatakan sangat menyesal terhadap aksi mahasiswa asal Sumba tersebut.
"Saya berterima kasih karena aparat kepolisian dapat bertindak cepat sehingga konflik tidak meluas. Masalah yang empat hari lalu belum selesai kalian sudah buat masalah lagi. Kasihan orang tua kalian di Sumba bekerja setengah mati untuk membiayai kalian sekolah, tetapi kalian malah berkelahi," kata Sulaiman.
Pantuan Pos Kupang di Polesta Kupang Kota, para mahasiswa yang ditangkap dikumpulkan di belakang kantor polesta didata dan diberikan pengarahan.  Terlihat sekitar 82 mahasiswa yang ditahan, ada yang tanpa menggunakan baju. Tampak barang bukti yang disita, antara lain parang, pisau, batu, tas yang digunakan sebagai tempat menyimpan batu dan sebotol minuman keras.
Kapolesta Kota Kupang, AKBP Tito Basuki Priyatno, memutuskan untuk mengembalikan para mahasiwa kepada orangtua untuk dibina agar kejadian ini tidak terjadi lagi.  
"Silakan ambil kembali barang kalian yang telah kami sita, tetapi khusus barang tajam tidak kami kembalikan untuk mencegah penyalahgunaan barang tajam ini di masa yang akan datang. Kami tidak akan main-main kalau tindakan yang kalian lakukan mengancam keamanan orang banyak," tandas Tito.
Untuk diketahui, Aparat Polres Kupang Kota mengamankan sekitar 82 mahasiswa yang kuliah di Universitas Nusa Cendana (Undana), Universitas PGRI, Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) dan Politani di Jalan Suratim, Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Kamis (13/3/2014) dinihari.
Mereka diamankan karena mabuk-mabukan, membawa senjata tajam dan berpotensi melakukan aksi tawuran.Kapolres Kupang Kota, AKBP Tito Basuki Priyatno, menyampaikan itu melalui Wakapolres Kupang Kota, Kompol Yulian Perdana, yang dihubungi Pos Kupang, Kamis. (13/3/2014) siang.
Penulis: alwy
Editor: omdsmy_novemy_leo

Mahasiswa Indonesia (Constantinus Satrio) Juara Lomba Sains di India


 Kamis, 13 Maret 2014 15:53 WITA



POS KUPANG. COM, LONDON - Mahasiswa Indonesia di India, Constantinus Satrio, berhasil menyabet juara pertama dalam ajang lomba bergengsi Annual Science, Technology, and Management Festival of IIT Delhi (TRYST) yang diadakan Indian Institue of Technology Delhi, New Delhi India, baru baru ini.
Karya Satrio, mahasiswa Indonesia, tahun ketiga program studi strata 1 aplikasi komputer, di Universitas Agra, ini bertemakan Manual Automatic Transmission Controller, demikian Humas PPI India,Taufiq Kusuma, dari London, Kamis.
Satrio dalam presentasinya mengatakan,   sistem pengendalian transmisi sepeda motor yang bisa di kendalikan dengan dual mode yaitu mode manual yang sewaktu-waktu bisa diubah ke mode otomatis atau sebaliknya sangat bermanfaat.
Dikatakan dia, orang yang lebih cenderung suka menggunakan mode manual mengalami gangguan otot, atau ada anggota keluarga lain yang sudah tua, yang sewaktu-waktu ingin menggunakan motor dalam mode otomatis.
Motor jadi lebih fleksibel, efisien, karena ada saat-saat tertentu ketika motor lebih nyaman dalam mode manual dan ada kalanya dalam mode otomatis.
Inovasi mahasiswa yang hobi memasak, balap motor, angkat besi, dan mengutak atik alat-alat elektro ini juga dinilai dari segi efisiensi, ekonomis, dan tentu memenuhi kerealistisan untuk di aplikasikan atau merupakan teknologi tepat guna.
Satrio menjawab lugas semua keraguan dewan juri pada saat sesi tanya jawab setelah mempresentasikan karyanya seperti yang ditampilkan di video rekaman presentasinya tersebut.
Ada dua alasan teknis yang dijelaskan Satrio yaitu murah dan bisa diaplikasikan, karena desain yang disederhanakan, serta kontrol kopling dan karburator menggunakan solenoid meminimalkan jumlah komponen yang dipakai, karena tidak perlu throttle position sensor.
Jumlah transistor penggerak daun karburator juga berkurang dari empat menjadi satu.
Solenoid juga memungkinkan pemasangan transmisi ini tanpa merubah mesin, karburator, ataupun gearbox, hanya tinggal potong kabel gas, kopling, dan merubah sistem pengungkit transmisi dari luar gearbox. 2.
Peningkatan efisiensi hingga 20 persen : Transmisi sepeda motor berbasis CVT mengalami rugi daya hingga 20 persen, sebab gesekan yang terjadi saat perpindahan rasio transmisi di karet penggerak. CVT juga rentan mengalami kerusakan mendadak jika dipergunakan untuk beban berat.
Transmisi otomatis tidak mengalami rugi-rugi daya karena menggunakan gearbox manual yang dikontrol oleh motor listrik, serta kopling yang dikontrol solenoid, sehingga daya yang dipergunakan untuk perpindahan gigi hanya listrik dari alternator motor.
Ketahanan dan reliabilitas transmisi otomatis juga meningkat, diserahkan karet CVT harus diganti secara berkala, sementara transmisi tidak memerlukan overhaul berkala jika tidak ada kerusakan pada sistem kontrol elektroniknya.
Dalam penelitian ini, Satrio tidak mendapat bantuan dana dari pihak-pihak yang seharusnya bisa membantu.
IIT Delhi merupakan universitas top tidak hanya di India, tetapi juga di dunia bersama dengan IIT Bombay yang masuknya lebih susah dari pada masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. (antara news)
Editor: agustinus_sape

Wednesday, 12 March 2014

Ditawari Antar ke Kampus, Mahasiswi Ini Dicabuli di Penfui

Rabu, 12 Maret 2014 00:09 WITA
Ditawari Antar ke Kampus, Mahasiswi Ini Dicabuli di Penfui
Net Ilustrasi
 
POS KUPANG.COM, KUPANG -- Malang nasib MD (20) warga kelurahan Oebobo kecamatan Oebobo Kota Kupang. MD yang merupakan mahasiswi PGRI ini menerima tawaran YsN warga RT/14 RW/04 Kelurahan Fatululi kecamatan Oebobo,  Kota Kupang.
Namun bukannya mengantar ke kampus, MD justru dicabuli di kawasan sekitar Jalan Klaret Penfui Kupang.
Kabag Humas AKP Januarius Mau Saat ditemui Pos Kupang diruang kerjanya, Selasa (11/3/2014) mengatakan kejadian tersebut sudah terjadi pada Rabu (5/3/2014) namun baru melapor ke Polres Kupang Kota pada Minggu (9/3/2014) malam.
Hingga kini aparat Polres Kupang Kota masih melaukan penyelidikan.
Januaris Mau menjelaskan, singkat cerita, MD yang hendak ke kampus pada Rabu (5/3/2014) ditawari oleh YsN untuk mengantarnya ke kampus Universitas PGRI NTT. MD yang merasa terbantu dengan tawaran itu langsung menerimanya.
MD bukannya langsung diantar ke kampus, namun masih diajak jalan-jalan oleh pelaku  ke arah Jalan Klaret Penfui dan masuk ke semak-semak yang sepi.
Di TKP tersebut, pelaku  memarkir motornya di semak-semak dan memulai aksinya bejatnya dengan merayu MD untuk berhubungan badan. Ajakan tersebut terang saja ditolak MD.
Ys yang marah kemudian menendang bagian belakang tubuh MD bahkan menginjak korban serta menarik baju gadis itu hingga robek.
Pelaku yang tak terkendali kembali mengajak MD untuk melayani nafsunya, namun lagi-lagi MD menolak. Ys kemudian meramas dada wanita itu. Sementara MD terus merontak untuk mempertahankan dirinya.
Ys yang mulai panik dan merasa tidak aman akhirnya mengambil tas korban yang berisi Leptop ACCER berwarna abu-abu dan langsung melarikan diri meninggalkan korban di tempat itu. (jj)
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang

Tuesday, 11 March 2014

Tenaga Honor Beristri Cabuli Siswi SMP

Selasa, 11 Maret 2014 11:31 WITA
Tenaga Honor Beristri Cabuli Siswi SMP
Net Ilustrasi
 
Laporan Wartawan Pos Kupang, Alfons Nedabang 
POS KUPANG.COM, TAMBOLAKA -- Dionisto Casto alias Denis (29), tenaga kontrak daerah yang bekerja di Bagian Tata Pemerintahan Setda Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) harus berurusan dengan polisi. Lelaki beristri yang kini mendekam di sel Polsektif Loura itu kedapatan mencabuli MM (14), siswi kelas 3 salah satu SMP di Kota Tambolaka.
Aksi bejat Denis terungkap Senin (3/3/2014). Sekitar pukul 17.00 Wita, Denis mendatangi rumah MM yang beralamat Jalan BTN, Desa Pogotena, Kecamatan Loura. Pada saat itu, orang tua MM sedang berada di kebun. MM sendirian di rumah.
Denis yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polsektif Loura, memaksa korban dengan cara menutup mulut korban dengan tangan. Selanjutnya pelaku mengangkat baju korban dan meraba-raba buah dada korban, serta menyuruh korban memegang alat vitalnya.
Beberapa saat kemudian, datang ibu korban yang pada saat itu mendengar ada suara dari dalam rumah dan langsung mendobrak pintu. Tersangka melarikan diri sampai dijemput dan diamankan di Polsektif Loura.
Ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/3/2014), Kapolsektif Loura, Kompol Yohanis Lapu, membenarkan adanya kasus tersebut. Menurutnya, tersangka adalah tetangga korban. Tersangka sering bermain di rumah korban. Peristiwa itu terjadi karena pelaku memaksa korban.
"Ada unsur paksaan. Anak ditarik ke kamar saat orang tua korban ke kebun. Saat di kamar pelaku menindih korban, mencium dan remas payudara. Korban disuruh pegang alat vitalnya. Ibu korban pulang dan hendak masuk rumah lewat pintu belakang, melihat ada orang masuk ke kamar korban. Ibu korban berjalan ke samping rumah, pelaku loncat keluar jendela, lari ke kebun jagung dan akhirnya diamankan polisi," jelas Lapu yang saat itu didampingi Kanit Reskrim, Aipda Kadek A Parwata.
Dari hasil pemeriksaan, tambah Kadek Parwata, korban mengaku sudah berhubungan badan setahun yang lalu. Pelaku merenggut kegadisannya sekitar Januari 2013, pada saat itu korban masih duduk di kelas 2 SMP. Aksi korban terus berlanjut dan berulang-ulang, selagi ada kesempatan.
"Dari hasil visum tidak ditemukan tanda-tanda persetubuhan baru dan tanda-tanda kekeraan akibat perlawanan. Tapi tampak ada robekan selaput darah. Jadi, mungkin sebelumnya mereka sudah berhubungan badan," jelas Kadek Parwata sembari menambahkan Denis sudah ditahan dan masa penahanannya berakhir 23 Maret 2014. Menurut Kadek Parwata, kasus ini sudah mau dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Waikabubak. *
Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang